Covid-19 telah mewabah hampir di seluruh dunia,
tak terkecuali juga Di Indonesia, bahkan sekarang pandemi Covid-19 telah
menjadi momok yang menakutkan di seluruh lapisan masyarakat. Seiring semakin
merebahnya wabah Covid-19 menimbulkan dampak negatif di berbagai bidang
kehidupan, baik bidang politik, sosial, ekonomi dan pendidikan.
Dampak adanya pandemi ini yang paling dirasakan
secara langsung di bidang pendidikan yaitu perubahan sistem pembelajaran.
Sistem pembelajaran yang lazim di
lakukan dengan tatap muka di sekolah berubah menjadi sistem pembelajaran Daring
di lakukan jarak jauh dari rumah.
Proses pembelajaran secara daring yang telah
dilaksanakan mulai bulan Maret ternyata mempengaruhi terhadap peningkatan tindak kekerasan / Violence terhadap anak. Kekerasan yang dialami seorang
anak tidak hanya dilakukan oleh orang asing saja melainkan bisa juga dilakukan
oleh salah satu anggota keluarga/ orang terdekat dengan korban. Berbagai macam
tindak kekerasan yang terjadi pada anak bisa secara fisik maupun psikologis,
verbal maupun non verbal. Beberapa contoh nyata tindak kekerasan anak yang
terjadi di masyarakat antara lain : sering terjadinya pembentakan anak oleh
orang tua ketika mereka tidak mampu mengerjakan tugas, tekanan psikologis anak
ketika dipaksa untuk mengerjakan tugas yang banyak ,sulit dan harus
selesai dalam jangka waktu yang singkat,
kekerasan fisik anak yang terbaru lainya
seperrti dikutip dari suara Banten “
Pembunuhan anak kandung yang berusia
enam tahun oleh orang tua kandungya
karena tidak mau mengerjakan tugas sekolah di Banten " (14/9/20)
Kekerasan demi kekerasan yang dialami oleh anak di
masa pandemi Covid -19 ini Jika ditelaah secara mendalam , banyak faktor yang
menjadi pemicunya , salah satu faktor Ekonomi yang dihadapi oleh orang tua
selaku bagian dari anggota keluarga. Menurut Wakil ketua KPAI , Rita Pranawati
menyebutkan ada kondisi seorang ibu tega melakukan kekerasan karena adanya
tekanan faktor ekonomi.
Tekanan ekonomi yang dialami orang tua ditambah
beban orang dalam mendampingi proses belajar anak dirumah menjadikan orang tua
depresi , sehingga secara tidak sadar mereka meluapkan emosi dengan jalan
membentak dan melakukan pemukulan terhadap anak. Sedangkan kekerasan anak
secara psikologis dapat kita lihat dari tekanan yang dialami anak selaku
peserta didik dimana mereka dipaksakan harus mampu mengerjakan tugas yang
banyak dalam waktu yang telah di tentukan.
Berbagai dampak negatif yang sering dilupakan jika
anak mengalami kekerasan fisik maupun psiologis yaitu menjadikan anak trauma,
mengurangi rasa percaya diri pada anak, memicu masalah kesehatan mental, dan
dampak terburuknya ketika anak beranjak dewasa mereka akan melakukan mitasi
perilaku kekerasan seperti yang pernah dialaminya ketika masih kecil.
Semestinya dalam era pandemi saat ini anak
harus mendapatkan kasih sayang dan
kebahagiaan yang baik. Tidak justru mendapatkan tekanan secara fisik maupun
psikologis. Sehingga dengan kondisi fisik dan
psikologis yang baik akan tercipta imun yang kuat. Dalam sebuah ungkapan
yang lazim didengar bahwa “ Mens sara in
corpore sano “ di dalam tubuh yang sehat akan tercipta jiwa yang kuat.
Lantas bagaimana agar tindak kekerasan pada anak
di masa pandemi Covid-19 ini bisa diminimalisir. Dalam konteks ini harus adanya
upaya pencegahan maupun upaya mengatasinya. Berbagai upaya mengatasinya harus melibatkan peran dari berbagai pihak,
baik pihak keluarga, pihak guru sebagai pendidik dan pihak pemerintah.
Peran keluarga,
Keluarga merupakan wadah pertama dan utama dalam
proses tumbuh kembangnya anak. Proses sosialisasi anak akan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian , jika seorang anak berhasil
dengan baik dalam proses sosialisasinya maka akan terbentuk kepribadian yang
baik pula, dan sebaliknya. Orang tua sebagai pihak yang terlibat langsung
dengan perkembangan fisik dan psikologis anak harus mampu memberi motivasi dan
arahan yang baik kepada anak, janganlah memaksakan anak untuk mengikuti
keinginan orang tua. Mindset orang tua yang malu jika anaknya tidak bisa
berprestasi, malu ketika anaknya tidak mampu mengikuti temanya yang pandai itu
harus diubah. Biarkan anak belajar bersosialisasi secara normal tanpa adanya
tekanan dari orang tua. Karena anak bukanlah robot yang bisa diatur sesaui
keinginan , melainkan individu yang unik dengan beragam kelebihanya.
Ketika keluarga dihadapkan oleh berbagai tekanan
ekonomi alangkah bijaknya jika sebagai orang tua harus mampu menahan beban itu tanpa harus
meluapkan ke anak. Untuk mengurangi beban orang tua pada saat daring di rumah ,
orang tua harus aktif berkomunikasi dengan guru yang bersangkutan ketika seorang anak merasa kesulitan dengan
permasalahan sekolah, selain itu orang tua harus mau mendampingi anaknya ketika
menggunakan hp/ laptop dalam proses pembelajaran daring, jangan biarkan anak
asyik bermain hp , membuka situs negatif dengan alasan belajar. Karena zaman
sekarang ini situs online juga bisa menjadi sarana bagi seseorang untuk
melakukan tindak kekerasan secara verbal terhadap anak.
Peran guru sebagai pendidik,
Guru merupakan orang tua kedua bagi anak selaku
peserta didik, seharusnya guru tidak hanya mampu mendidik anak , tapi juga
harus bisa memotivasi, memberi rasa nyaman
dan aman pada anak. Pandanglah siswa sebagai anak kandung sendiri bukan
sebagai peserta didik. Guru seharusnya bisa ikut merasakan apa yang dirasakan
oleh anak. Ketika guru memberikan tugas kepada anak harus bisa melihat apakah
sebagian besar dari mereka mampu untuk mengerjakan tugas tersebut. Jangalah
siswa dibebani oleh tugas yang banyak dengan waktu yang singkat.
Guru juga harus mampu melihat dan mengamati
bagaimana kondisi perekonomian rata-rata para peserta didik. Ketika melakukan
proses pembelajaran daring tidak perlu memaksakan harus menggunakan aplikasi
yang membutuhkan kuota banyak. Gunakan aplikasi yang bisa dijangkau oleh anak.
Seperti Google form, Whatssap group mapel.
Tentunya dengan kerjasama semua pihak baik keluarga
dan guru sebagai pendidik dapat mengurangi tindak kekerasan pada anak. Anak
merupakan anugerah dari Tuhan dan generasi penerus bangsa yang harus dijaga.
Pada masa pandemi ini jangan lupa selalu jaga
kesehatan , cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, menerapkan
sosial distancing dan psikal distancing, serta selalu memakai masker di
keramaian. Dan dengan adanya pandemi Covid-19 ini jangan jadikan alasan untuk
melakukan kekerasan pada anak. Tapi jadikan pandemi ini untuk membangun moment
yang indah untuk selalu bersama anak. Sekali lagi selalu waspada, kekerasan
terhadap anak tidak hanya dilakukan oleh orang yang jauh tetapi sering
dilakukan tanpa sadar oleh orang disekitar anak. Dengan demikian siapapun harus bertanggung jawab terhadap dalam
meminimalisasi kekerasaan terhadap anak baik kekerasan verbal maupun fisik.
Assalamualikum bunda Efi........
BalasHapusI really do like your post. Hopefully all the readers can take valuable benefit form your post. great bu.....................
Thank, Matur suwun. Mohon masukanya ya bun...
HapusSiipp....
BalasHapusTrimakasih..
HapusTerimakasih bu efi karyanya sangat bermanfaat. Memang pandemic memiliki banyak dampak negative feedback terutama di pendidikan
BalasHapusSama2. kita semua harus terus belajar dan doakan karyaku selanjutnya lebih bermanfaat.
BalasHapus